Selasa, 15 Juli 2014

Ada apa dengan generasi "Emas" Indonesia?

      Selalu disuguhkan dengan intrik-intrik yang berkutat di hal itu-itu saja. Ya, begitulah rapat dan diskusi yang terjadi saban hari ini. Satu kata dijabarkan dalam berbagai makna. Opini yang keluarpun hanya selalu berdasarkan logika dan pengalaman  masing-masing kepala. Tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang mau mengakui kekeliruannya.Bahkan banyak orang yang mengeluarkan pendapat  tanpa literasi dan referensi yang jelas. Bilal bin said pernah berkata "Bila ada seseorang yang gemar berdebat, keras kepala, & membanggakan persepsinya sendiri, maka lengkaplah kerugiannya".
       Fenomena yang kian jelas terlihat masa kini ialah berkurangnya semangat anak muda untuk membaca. Sungguh sulit kita jumpai forum yang didalamnya sebagian besar senang membaca. Sebagian besar lebih senang mendengar dan menyaksikan orang lain berbicara dan kemudian apa yang dibicarakan oleh orang itulah yang paling benar. Sehingga ketika ada orang lain yang menyatakan sebuah kebenaran yang lain maka si anak muda inipun tidak tahu menentukan mana yang sebetul-betulnya yang dikatakan dengan kebenaran. Bahkan untuk membuka dan membaca buku pun enggan. Padahal buku dan tulisan dapat memberikan kita gambaran yang kurang lebih dapat terpercaya dan memiliki nilai pertanggung jawaban yang jelas.
       Diskusi-diskusi intelektual yang notabene merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan wacana kini sulit sekali untuk ditemui. Mungkin kita melihat secara sepintas banyak orang yang berkumpul dan membicarakan sesuatu hal. Namun ketika kita kemudian lebih mendekat kepada mereka, sebagian besar hanya membicarakan hal-hal seperti masalah dosen, guru, lika-liku percintaan remaja, gosip yang tak punya manfaat serta segala sesuatu yang hanya menyentuh ke arah sensualitas pribadi. Jarang lagi kita mendengar diskusi yang membahas tentang hal-hal yang berbau filsafat. Jarang lagi kita mendengar diskusi mengenai pergerakan. Dan sungguh sangat jarang kita temui diskusi mengenai masalah-masalah sosial yang berkutat di sekitar kehidupan kita.
       Pemuda yang hidup pada awal abad 21 merupakan calon-calon pemimpin 20-30 tahun yang akan datang. Pemuda ini merupakan penyambung tongkat estafet pembangunan bangsa Indonesia. (news.bisnis.com 23/8/2013) Indonesia saat ini memiliki penduduk yang besar, sekitar 251 juta jiwa. Penduduk usia produktif (15-64 tahun) sekitar 44,98%. Proporsi penduduk usia produktif ini akan terus meningkat sampai 2025. Hal ini menunjukkan bahwa usia pemuda yang berpotensi untuk memajukan Indonesia sangat luar biasa. 
     Bahkan kepala penelitian dan pengembangan Korea selatan memberikan Indonesia gelar "The Sleeping Giant" atau Raksasa yang sedang tidur. Kim memberikan julukan itu dilihat dari potensi negara kita berdasarkan Luas wilayah, jumlah penduduk, serta kekayaan alam Indonesia.
     Namun, mengapa hingga detik ini kita masih tergolong negara yang berkembang. Bahkan setelah Bung karno memproklamasikan Kemerdekaan RI 69 Tahun yang lalu. Bahkan setelah Indonesia melakukan Reformasi 16 Tahun silam. Ada apa dengan generasi "Emas" Indonesia? akankah kalimat ini akan berlanjut hingga di milenium selanjutnya atau ekspektasi kita akan munculnya generasi "Emas" akan terwujud di masa depan?

Senin, 07 Juli 2014

Kamu cantik kamu baik

       Karena kamu cantik, kan kuberi segalanya apa yang kupunya dan hatimu baik sempurnalah duniaku saat kau disisiku. Kalimat diawal paragraf ini merupakan bagian reff dari lagu yang berjudul Kamu cantik kamu baik dari Lyla. Kalau dilihat dan didengar secara sepintas mungkin kita akan mengakui bahwa dua sifat wanita (kalau kita pria) dari lagu tersebut telah mewakili calon istri pujaan. Istri merupakan seorang wanita yang telah sah secara agama kemudian dibuktikan dengan surat nikah dari negara. Ketika kelak kita (bagi yang belum beristri) akan mencari seorang istri maka dua hal tersebut akan menjadi titik tolak kita dalam menentukan kriterianya. Pertama dia harus cantik, tentu saja cantik yang dimaksud adalah tampilan luarnya atau biasa disebut outer beauty. Kemudian yang kedua adalah baik, atau dengan kata lain inner beauty-nya.
       Kecantikan menurut sebagian besar orang merupakan suatu yang subjektif. Outer beauty seseorang ditentukan dari perspektif kita masing-masing. Ada yang mengatakan wanita yang berkulit putih itu cantik. Sebagian yang lain mengatakan wanita yang berkulit coklat itu yang cantik. Kemudian wanita yang memiliki hidung yang mancung itu cantik dan ada pula yang mengatakan hidung yang agak datar itulah yang cantik. Kesubjektifan definisi kecantikan diperkuat Knight Dunlap melalui Alfred Strom dalam American Dissident Voices menyatakan bahwa definisi kecantikan seseorang bervariasi dan berbeda antara ras yang satu dengan yang lain, sehingga konsep kecantikan tidak dapat dibandingkan. Namun secara universal dapat saya tarik sebuah benang merah bahwa kecantikan dapat disandingkan dengan sebuah kata yaitu "Proporsional" baik secara jasmani maupun rohani.
        Selanjutnya, kebaikan pun merupakan suatu yang subjektif. Mengapa saya katakan demikian, karena baik menurut orang yang satu belum tentu sama dengan yang lain. Artinya, penilaian mengenai kebaikan lebih mengarah hal yang bersifat kualitatif bukan kuantitatif. Kebaikan tidak dapat dijabarkan dalam bentuk angka namun hanya dapat dimaknai dengan sentuhan perasaan. Oleh karenanya, kebaikan lebih ditekankan kepada Inner beauty atau kecantikan dari dalam diri. Namun, lagi-lagi secara universal dapat saya jabarkan bahwa kebaikan juga memiliki nilai-nilai yang universal. Salah satunya ialah simpati maupun empati dari masing-masing individu. Subjek yang satu dalam hal ini manusia, dapat melihat sifat-sifat seseorang dari caranya bersikap maupun bertindak. Dari situlah seseorang mampu mengategorikan seseorang tersebut Baik atau tidak baik melalui pengalaman Indrawi-nya.
       Dalam ajaran islam melalui sabda Rasulullah SAW kita dapat menentukan kriteria calon istri yang akan kita pinang dan mendampingi kita kelak. Berikut hadistnya :
“Seorang wanita biasanya dinikahi karena empat hal,yaitu karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya),karena kecantikannya dank arena agamanya. Maka utamakan memilih istri (wanita) karena agamanya. Kamu akan merugi (bila tidak memilih karena agamanya).” (HR. Bukhari,Muslim dan Abu Dawud) 
      Dari hadist diatas, dapat kita lihat bahwa selain kebaikan dan kecantikan, ternyata ada hal lain yang perlu kita cermati dalam menentukan pasangan hidup. Harta, keturunan, serta yang paling utama adalah Agamanya. Kita dianjurkan untuk memilih istri yang jelas asal-usulnya serta wanita yang sholehah. Tentu saja hadist ini melengkapi kriteria kita dalam menentukan Calon istri idaman.
Sekian...Semoga bermanfaat...
Source :
http://lenterahati21.blogspot.com/2013/02/mencari-jodoh-menurut-islamtips-memilih.html
http://www.chordfrenzy.com/chord/7572/lyla-kamu-cantik-kamu-baik
http://gudangpertanyaan.blogspot.com/2012/03/standar-kecantikan-menurut-para-ahli.html

Kamis, 26 Juni 2014

Ilusi


Soe Hok Gie dalam tulisannya yang membuatku sadar bahwa idealisme tak hanya sekedar impian atau mimpi karena memang hanya mimpi dan mimpi!!! "Saya membayangkan seorang mahasiswa antropologi, yang berusia sembilas belas tahun datang dengan cita-cita membuat field work di pedalaman Kalimantan atau Irian Barat. Atau seorang mahasiswa jurusan kimia yang berpikir untuk menemukan sejenis cairan baru yang dapat melambungkan manusia ke bulan. Atau seorang mahasiswa hukum dengan ide-ide yang sarat dengan rule of law. Tidak ada yang lebih kejam daripada mematahkan tunas-tunas semangat kemerdekaan berpikir dan berkreativitas. Dalam waktu beberapa tahun, pemuda berumur sembilas tahun ini mengetahui tak mungkin ada "Field work" ke Irian Barat atau pedalaman Kalimantan. Ia harus puas dengan skripsi tentang masyarakat tukang buah-buahan di Pasar Minggu. Dan alumnus Kimia benar-benar menyadari yang ada untuknya hanyalah kerja di pabrik sabun atau mentega. Pelan-pelan, ia harus melupakan idealismenya tentang cairan yang dapat melontarkan manusia ke bulan. Lalu, si mahasiswa fakultas hukum mengetahui, bahwa dia atas hukum yang tidak tertulis. Tentara, Polisi, jaksa dan garong-garong yang punya koneksi"
Demikian catatan Soe Hok Gie yang sarat akan makna yang mungkin saja akan menyadarkan kita dalam bertindak. Apakah akan terus berjuang mempertahankan idealisme dan semangat kreatifitas kita atau kembali ke realitas kehidupan yang penuh dengan kemunafikan?
-MA-

Ketiadaan


Ketika ketiadaan cahaya kian nyata
harapan yang mengarah ke kepunahan
waktu yang semakin usang, dan dahaga yang semakin terasa
Ada secerca embun yang menghiasi relung kekosongan
ada setitik celah yang menembus hingga ke ubun
dan ada sokongan yang mengarah ke keniscayaan
Sembari ku menunggu semangat itu menjelaga kembali..
Aku dan sepeninggalanku...
-MA-

Keep Istiqamah

Tak ada lagi kata yang dapat menjelaskan
Harus berbuat dan bagaimana lagi untuk memahamkannya
Karena sesungguhnya pahaman berasal dari subjektifitas individu
Jangan memaksa dan jangan terpaksa
Sesungguhnya keterpaksaan itu yang kelak akan menjadi luka atau sebaliknya...
Keep Istiqamah !!!
 

Rabu, 11 Juni 2014

Niscaya

Sarat akan makna
Punya banyak cerita
Selalu meninggalkan kisah
Dalam tawa dan haru
Melebur menjadi satu
Dengan berbagai spekulasi yang ada
Kini kau dapat mencari sesuatu
Ya, sesuatu yang membuatmu melanlang buana
Entah kemana, dan entah kapan?

Adakah sedikit saja yang tahu
bahwa dirimu bukan hanya mitos atau pun khayal
ketika ini semakin nyata
Ya, aku tahu
bahwa kau benar-benar ada
bahkan sebelum jiwa merasuki raga
kau telah bertahta di sidhratul muntaha
Tinggal sang waktu yang akan menjawabnya
bahkan ketika sangkakala telah dibunyikan
Keyakinan ini takkan pernah pudar
bahwa kau adalah keniscayaan
entah di dunia atau di akhirat kelak

Kamis, 05 Juni 2014

Solidaritas tolak penggusuran Bulogading...!!!

Perampasan sudah jadi barang lumrah di kota-kota besar. Hal ini membuat kita sebagai rakyat menjadi apatis. Tak mau lagi berurusan dengan urusan rakyat jelatah, tak pusing lagi dengan kesengsaraan rakyat miskin kota. Lantas apa bedanya kita dengan babi-babi berjas yang telah kekeringan hati serta nurani? Tolak Penggusuran, Penggusuran merampas hak hidup, hak merdeka, dan hak Asasi Rakyat...#Solidaritas tolak penggusuran Bulogading...!!!