Kamis, 17 Juli 2014

Inikah rasanya? #1

     Ada satu hal yang mungkin selalu orang sembunyikan dan entah apa malu atau bagaimana mengungkapkannya. Kata yang tepat untuk mewakilinya adalah Jatuh cinta. Tidak dapat dipungkiri semua manusia pasti punya itu. Baik itu jatuh cinta yang sifatnya sangat sensitif hingga masalah yang remeh temeh.
            Karena aku juga manusia, maka tentu saja saya punya itu. Sebenarnya aku bingung harus mulai darimana. Tapi, mungkin aku bisa mulai dari sini saja. Mungkin diantara anda pernah dan mungkin sering merasakan jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Apakah itu kepada seseorang ataupun terhadap sesuatu yang lain semisal hobi, tempat, dsb. Kali ini yang menimpa saya adalah jatuh hati kepada orang, Ehemm, entahlah mengapa hal ini bisa terjadi.
           Kata orang, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Itulah yang terjadi terhadap saya di usiaku yang genap 20 tahun ini. Ya, sekarang aku menginjak usia 20 tahun. Usia yang sebagian orang mungkin sudah cukup dewasa. Kembali ke keadaan yang aku alami yaitu jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada seorang wanita, sebut saja dia Ani. Oh iya, sebelum itu perkenalkan namaku Fahri. Aku seorang mahasiswa semester empat disalah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia Timur. Tinggiku sekitar 175 cm dengan kulit agak coklat dan tubuh cukup atletis. Ya itu kata teman-temanku yang selalu iri dengan tampangku yang katanya "ganteng".
           Aku akan mulai dari awal aku bertemu dengannya. Pada hari itu, sekitar dua tahun yang lalu, aku baru saja dinyatakan lulus di kampus yang telah lama aku dambakan. Kampus dimana tempat berkumpulnya kaum intelektual untuk mengejar mimpi-mimpinya. Tempat dimana aku juga berharap aku mampu melangkah lebih maju dan lebih sukses dari orang kebanyakan.
          Pagi itu, ditemani suara kendaraan bermotor dan asap yang sangat banyak menutupi jalan. Aku melangkah dengan semangat yang tinggi untuk memulai hari pertamaku di kampus. Karena kampus dan kosku jaraknya sekitar lima km, maka kuputuskan untuk naik angkot. "Kampus pak"kataku sambil menengok ke dalam angkot. Tampak di dalam angkot masih sepi. Hanya seorang wanita separuh baya dan seorang pria yang kulihat di dalamnya. Kebetulan aku berangkat pagi-pagi sekali, takut telat masuk kampus di hari pertamaku. "Iya dek, silahkan naik" jawab sopir angkot yang sedari tadi mengulangi perkataannya karena aku menengok ke dalam terus menerus. Aku lantas naik dan duduk di bangku paling luar angkot tersebut. Waktu menunjukkan pukul  06.25 WITA. Itu waktu yang ditunjukkan jam kesayanganku. Jam tangan hitam yang selalu menemaniku sejak SMA dulu. "
            Jalanan di kota Makassar, belum terlalu padat. Tidak seperti waktu aku baru pertama kali datang kesini. Macetnya luar biasa, kalau dibandingkan di kampung, ahhh beda banget. Iya aku lupa mengenalkan darimana asalku. Aku merupakan salah satu putra kebanggaan Sulawesi tengah, tepatnya aku tinggal di Palu. Tempat yang indah dengan berjuta pesona.
         "Kiri pak, kiri kiri" Teriakku sedikit kencang karena laju angkot ini terlalu cepat dan sudah lewat di tempat seharusnya aku berhenti.
BERSAMBUNG.....

Selasa, 15 Juli 2014

Ada apa dengan generasi "Emas" Indonesia?

      Selalu disuguhkan dengan intrik-intrik yang berkutat di hal itu-itu saja. Ya, begitulah rapat dan diskusi yang terjadi saban hari ini. Satu kata dijabarkan dalam berbagai makna. Opini yang keluarpun hanya selalu berdasarkan logika dan pengalaman  masing-masing kepala. Tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang mau mengakui kekeliruannya.Bahkan banyak orang yang mengeluarkan pendapat  tanpa literasi dan referensi yang jelas. Bilal bin said pernah berkata "Bila ada seseorang yang gemar berdebat, keras kepala, & membanggakan persepsinya sendiri, maka lengkaplah kerugiannya".
       Fenomena yang kian jelas terlihat masa kini ialah berkurangnya semangat anak muda untuk membaca. Sungguh sulit kita jumpai forum yang didalamnya sebagian besar senang membaca. Sebagian besar lebih senang mendengar dan menyaksikan orang lain berbicara dan kemudian apa yang dibicarakan oleh orang itulah yang paling benar. Sehingga ketika ada orang lain yang menyatakan sebuah kebenaran yang lain maka si anak muda inipun tidak tahu menentukan mana yang sebetul-betulnya yang dikatakan dengan kebenaran. Bahkan untuk membuka dan membaca buku pun enggan. Padahal buku dan tulisan dapat memberikan kita gambaran yang kurang lebih dapat terpercaya dan memiliki nilai pertanggung jawaban yang jelas.
       Diskusi-diskusi intelektual yang notabene merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan wacana kini sulit sekali untuk ditemui. Mungkin kita melihat secara sepintas banyak orang yang berkumpul dan membicarakan sesuatu hal. Namun ketika kita kemudian lebih mendekat kepada mereka, sebagian besar hanya membicarakan hal-hal seperti masalah dosen, guru, lika-liku percintaan remaja, gosip yang tak punya manfaat serta segala sesuatu yang hanya menyentuh ke arah sensualitas pribadi. Jarang lagi kita mendengar diskusi yang membahas tentang hal-hal yang berbau filsafat. Jarang lagi kita mendengar diskusi mengenai pergerakan. Dan sungguh sangat jarang kita temui diskusi mengenai masalah-masalah sosial yang berkutat di sekitar kehidupan kita.
       Pemuda yang hidup pada awal abad 21 merupakan calon-calon pemimpin 20-30 tahun yang akan datang. Pemuda ini merupakan penyambung tongkat estafet pembangunan bangsa Indonesia. (news.bisnis.com 23/8/2013) Indonesia saat ini memiliki penduduk yang besar, sekitar 251 juta jiwa. Penduduk usia produktif (15-64 tahun) sekitar 44,98%. Proporsi penduduk usia produktif ini akan terus meningkat sampai 2025. Hal ini menunjukkan bahwa usia pemuda yang berpotensi untuk memajukan Indonesia sangat luar biasa. 
     Bahkan kepala penelitian dan pengembangan Korea selatan memberikan Indonesia gelar "The Sleeping Giant" atau Raksasa yang sedang tidur. Kim memberikan julukan itu dilihat dari potensi negara kita berdasarkan Luas wilayah, jumlah penduduk, serta kekayaan alam Indonesia.
     Namun, mengapa hingga detik ini kita masih tergolong negara yang berkembang. Bahkan setelah Bung karno memproklamasikan Kemerdekaan RI 69 Tahun yang lalu. Bahkan setelah Indonesia melakukan Reformasi 16 Tahun silam. Ada apa dengan generasi "Emas" Indonesia? akankah kalimat ini akan berlanjut hingga di milenium selanjutnya atau ekspektasi kita akan munculnya generasi "Emas" akan terwujud di masa depan?

Senin, 07 Juli 2014

Kamu cantik kamu baik

       Karena kamu cantik, kan kuberi segalanya apa yang kupunya dan hatimu baik sempurnalah duniaku saat kau disisiku. Kalimat diawal paragraf ini merupakan bagian reff dari lagu yang berjudul Kamu cantik kamu baik dari Lyla. Kalau dilihat dan didengar secara sepintas mungkin kita akan mengakui bahwa dua sifat wanita (kalau kita pria) dari lagu tersebut telah mewakili calon istri pujaan. Istri merupakan seorang wanita yang telah sah secara agama kemudian dibuktikan dengan surat nikah dari negara. Ketika kelak kita (bagi yang belum beristri) akan mencari seorang istri maka dua hal tersebut akan menjadi titik tolak kita dalam menentukan kriterianya. Pertama dia harus cantik, tentu saja cantik yang dimaksud adalah tampilan luarnya atau biasa disebut outer beauty. Kemudian yang kedua adalah baik, atau dengan kata lain inner beauty-nya.
       Kecantikan menurut sebagian besar orang merupakan suatu yang subjektif. Outer beauty seseorang ditentukan dari perspektif kita masing-masing. Ada yang mengatakan wanita yang berkulit putih itu cantik. Sebagian yang lain mengatakan wanita yang berkulit coklat itu yang cantik. Kemudian wanita yang memiliki hidung yang mancung itu cantik dan ada pula yang mengatakan hidung yang agak datar itulah yang cantik. Kesubjektifan definisi kecantikan diperkuat Knight Dunlap melalui Alfred Strom dalam American Dissident Voices menyatakan bahwa definisi kecantikan seseorang bervariasi dan berbeda antara ras yang satu dengan yang lain, sehingga konsep kecantikan tidak dapat dibandingkan. Namun secara universal dapat saya tarik sebuah benang merah bahwa kecantikan dapat disandingkan dengan sebuah kata yaitu "Proporsional" baik secara jasmani maupun rohani.
        Selanjutnya, kebaikan pun merupakan suatu yang subjektif. Mengapa saya katakan demikian, karena baik menurut orang yang satu belum tentu sama dengan yang lain. Artinya, penilaian mengenai kebaikan lebih mengarah hal yang bersifat kualitatif bukan kuantitatif. Kebaikan tidak dapat dijabarkan dalam bentuk angka namun hanya dapat dimaknai dengan sentuhan perasaan. Oleh karenanya, kebaikan lebih ditekankan kepada Inner beauty atau kecantikan dari dalam diri. Namun, lagi-lagi secara universal dapat saya jabarkan bahwa kebaikan juga memiliki nilai-nilai yang universal. Salah satunya ialah simpati maupun empati dari masing-masing individu. Subjek yang satu dalam hal ini manusia, dapat melihat sifat-sifat seseorang dari caranya bersikap maupun bertindak. Dari situlah seseorang mampu mengategorikan seseorang tersebut Baik atau tidak baik melalui pengalaman Indrawi-nya.
       Dalam ajaran islam melalui sabda Rasulullah SAW kita dapat menentukan kriteria calon istri yang akan kita pinang dan mendampingi kita kelak. Berikut hadistnya :
“Seorang wanita biasanya dinikahi karena empat hal,yaitu karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya),karena kecantikannya dank arena agamanya. Maka utamakan memilih istri (wanita) karena agamanya. Kamu akan merugi (bila tidak memilih karena agamanya).” (HR. Bukhari,Muslim dan Abu Dawud) 
      Dari hadist diatas, dapat kita lihat bahwa selain kebaikan dan kecantikan, ternyata ada hal lain yang perlu kita cermati dalam menentukan pasangan hidup. Harta, keturunan, serta yang paling utama adalah Agamanya. Kita dianjurkan untuk memilih istri yang jelas asal-usulnya serta wanita yang sholehah. Tentu saja hadist ini melengkapi kriteria kita dalam menentukan Calon istri idaman.
Sekian...Semoga bermanfaat...
Source :
http://lenterahati21.blogspot.com/2013/02/mencari-jodoh-menurut-islamtips-memilih.html
http://www.chordfrenzy.com/chord/7572/lyla-kamu-cantik-kamu-baik
http://gudangpertanyaan.blogspot.com/2012/03/standar-kecantikan-menurut-para-ahli.html