Sabtu, 28 Februari 2015

“SELINGKUHAN MEDIA”




Media yang kemudian lebih sering disebut media massa oleh awam merupakan sarana penyalur informasi. Dalam hal ini media seharusnya memiliki sifat-sifat yang independen, bebas dari tekanan politik serta memuat berita-berita yang faktual.
Melirik ke zaman orde lama. Di era ini terdapat dua kata yang sangat populer yakni Revolusioner dan reaksioner. Revolusioner merupakan salah satu bentuk manipulasi informasi guna membakar semangat rakyat dalam berjuang memberangus Amerika, Inggris dan antek-anteknya. Di sisi lain terdapat media yang anti-revolusi atau disebut reaksioner. Media jenis ini kemudian diberangus dengan menggunakan kekuasaan penguasa yang absolut karena mengancam nasionalisasi yang diusung di orde lama.
Pada era orde baru, media mengalami sedikit perbaikan. Independensi sudah mulai muncul namun masih terlihat “setengah-setengah” Ada dua jenis media massa yang muncul: media yang dikontrol oleh pemerintah (suara partai berkuasa seperti Suara Karya); serta media seperti Kompas, Tempo, dan berbagai jenis 'media independen' yang tersebar di tingkat nasional dan daerah.
Dan apa yang terjadi di era reformasi 1998. Pada periode ini segala bentuk kekecewaan kemudian membuncah dan mencapai klimaksnya akibat dua orde yang telah memegang kontrol kekuasaan sejak bung karno membacakan teks proklamasi 1945 silam. Pertanyaan besarnya adalah, seperti apa bentuk final dari pers di indonesia pasca reformasi?.
Pasca reformasi, media massa di indonesia bergabung dalam euforia keterbukaan dan ketertakbatasan informasi. Hal demikian merupakan salah satu bentuk final yang positif dalam menegakkan independensi media. Namun, kondisi ini tak lepas dari fenomena negatif yang membayanginya. Dimana industri ikut masuk dalam arus demokrasi dan media massa. Jika sebelumnya media dikuasai oleh pemerintah, kini kekuasaan itu bergeser ke arah pemilik modal. Pemerintah hanya memiliki andil sebesar 30% dalam kegiatan ekonomi media.
Hazairan pohan mengatakan “Media dan politik sudah lama menjadi bagian dari industri. Hal yang sama juga terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Namun, media di Indonesia sudah kebablasan dan tidak berpegang teguh pada etika jurnalistik, minim profesionalisme, dan para jurnalis juga tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencerna peristiwa ke dalam laporan yang faktual, berimbang, dan runtut.”
Di Eropa dan Amerika, ada mekanisme pengawasan media yang diatur oleh UU, serta ditunjang oleh kemampuan penegak hukum yang piawai dan kontrol masyarakat yang telah memiliki kesadaran media. Di Indonesia, mekanisme ini belum ada. Semua kondisi ini terjadi tanpa mengindahkan etika media. Tentu saja hal tersebut sangat mengkhawatirkan. Media yang merupakan salah satu dari elemen dari demokrasi kini sudah tak suci lagi. Kotoran-kotoran kaum kapitalis telah menodai kesucian dari media massa. Kondisi ini kemudian bertambah parah jika negara kita dipimpin oleh seorang yang hanya jadi boneka, dan para penegak hukum serta aparatur negara yang korup.
Pengawasan pemerintahan oleh rakyat kini dalam status darurat. Oknum Rakyat kini memiliki semboyan “Maju tak gentar membela yang bayar”. Hal ini merupakan suatu ancaman yang serius karena media sudah masuk dalam ranah degradasi moral rakyat secara massif.
            Media indonesia kemudian bermanuver dengan mendukung partai politik ataupun tokoh tertentu dalam merebut kuasa di pemerintahan. Profesor David Hill dari Murdoch University, Australia sebenarnya sudah memperingatkan media di Indonesia agar tak seperti media di Australia. Dimana pemilik media memanfaatkan posisinya dalam penyebaran informasi yang notabenenya mencerdaskan rakyat bermetamorfosis menjadi alat kekuasaan politik “Berbayar”.
Kini media dan politik merupakan pasangan selingkuh yang saling melengkapi. Media memerlukan recehan dari informasi yang telah diperkosa kemudian dimasukkan kedalam mata dan telinga rakyat. Sedangkan pelaku politik butuh alat yang mengukuhkan kekuasaan semunya dalam negara melalui media.
Media dalam konteks penutupan borok dilakukan dengan memperlancar perubahan booming isu yang satu ke yang lainnya. Ketika isu bank Century meluas beberapa tahun yang silam kemudian dengan intervensi politik media mengalihkan ke isu lainnya dengan cepat.
Selain itu media juga mampu menutupi kesepakatan yang merugikan negara seperti saat ini isu KPK vs Polri beberapa minggu bahkan bulan terakhir hangat diperbincangkan. Di belakang layar, pemerintah memperpanjang kontrak PT Freeport yang telah menggerogoti leher kaum pribumi sejak dimulainya orde baru 60 tahun lamanya. Sungguh sangat ironis ketika hal ini kemudian hanya menjadi tontonan dan tak mampu dirubah sebagaimana mestinya.
Bukan hanya menghancurkan lawan politik tertentu, namun propaganda politik media  massa juga akan meluluhlantakkan moral bangsa dari dalam. Kemudian apa kabar buruknya?. Kita akan menjadi bangsa yang impoten dan tak mampu berdikari. Mudah digoyangkan lalu dirubuhkan lantas menjadi “Negara Demokrasi tanpa Alas kaki”.
Sungguh secara pribadi, hal ini merupakan tantangan sekaligus cambukan mengapa hal ini  tak dapat dicegah sejak dini. Bagaikan dinding bendungan air yang telah retak akibat tekanan, kemudian retakan itu makin lama makin membesar dan menenggalamkan kita. Apakah kita hanya mampu berdiam diri kemudian membuat pelampung setelah air tersebut menenggelamkan kita? Atau sedari dini kita menambal retakan kemudian mempertebal dinding bendungan dengan jati diri bangsa Indonesia yang kekal abadi?

-MA-

Rabu, 05 November 2014

GRATIS DARIMANA ???


Banyak perjalanan yang tlah kulewati
Demi menuju perguruan yang katanya tinggi
Tinggi akan hal-hal yang berbau akademisi
Tinggi akan mimpi-mimpi yang dibawa sejak dini
Tinggi...Tinggi...dan Tinggi
Katanya...

Pemimpin yang dijuluki pemerintah
Kini hanya tinggal nama
Lebih pantas dikatakan penguasa
Penguasa yang rakus akan harta, tahta, dan apalah

Begitu banyak janji yang diumbar
Namun satu yang terngiang bagiku
Pendidikan murah bahkan seharusnya gratis
Janjinya...

Tapi janji tinggallah janji
Mimpi yang kubangun diambang punah
Tidak adalagi pendidikan murah
Apalagi gratis...

Cita-cita kemerdekaan untuk mencerdaskan bangsa kini dipelintir menjadi
Cita-cita mencerdaskan kantong penguasa
Membuncitkan perut-perut buaya-buaya berdasi
Mengosongkan perut-perut buruh, tani serta rakyat yang harusnya diayomi

Birokrasi kampus seakan menutup mata, telinga, bahkan batin mereka
Tak mau lagi mendengar jeritan pilu pencari ilmu
Tak mau lagi memikirkan masa depan pendidikan kami

Pantaskah kalian dipanggil ayah ibu kedua kami
Ketika mulut kami dibungkam berbagai macam intervensi
Langkah kami dibekukan dengan alasan kolot

Namun, kami takkan berhenti bersuara
Menuntut apa yang seharusnya kami dapatkan
Dan apa yang seharusnya kami rasakan
Lebih baik gugur dalam gerak daripada gugur dalam diam!!!

Kau akan tahu ketika kita berpisah


Sorot matamu membuatku tahu arti teduh
Setiap kali kau ada membuatku tahu arti nyaman
Ketika kau gelisah membuatku tahu arti peka
Senyummu membuatku tahu arti bahagia
Tawamu membuatku tahu arti riang
Air matamu yang menetes membuatku tahu arti sedih
Semangatmu membuatku tahu arti motivasi

Aku banyak tahu tentang kamu
Tapi entah engkau banyak tahu tentang aku
Aku menyimpan rasa untuk kamu
Tapi entah engkau  punya rasa atau tidak kepadaku

Mungkin engkau akan tahu ketika kita berpisah

Niscaya

Sarat akan makna
Punya banyak cerita
Selalu meninggalkan kisah
Dalam tawa dan haru
Melebur menjadi satu
Dengan berbagai spekulasi yang ada
Kini kau dapat mencari sesuatu
Ya, sesuatu yang membuatmu melanlang buana
Entah kemana, dan entah kapan?

Adakah sedikit saja yang tahu
bahwa dirimu bukan hanya mitos atau pun khayal
ketika ini semakin nyata
Ya, aku tahu
bahwa kau benar-benar ada
bahkan sebelum jiwa merasuki raga
kau telah bertahta di sidhratul muntaha
Tinggal sang waktu yang akan menjawabnya
bahkan ketika sangkakala telah dibunyikan
Keyakinan ini takkan pernah pudar
bahwa kau adalah keniscayaan
entah di dunia atau di akhirat kelak...

Kamis, 25 September 2014

Bukan milikmu

Hahahahah
Bumi yang kau pijak adalah bumiku
Langit yang kau tatap adalah langitku
Udara yang kau hirup adalah udaraku
Tak ada lagi yang kau miliki
Tak sebiji pun berhak kau dapati
Tak dapat apa-apal agi
Disini aku berkuasa
Walau suaramu yang membuatku begini
Menjadi pemimpin di negeri demokrasi

Hahahahah
Kuasaku adalah takdirmu
Perintahku adalah kewajibanmu
Kemauanku adalah pekerjaanmu
Anak cucumu juga milikku
Harta bendamu menjadi hakku
Bahkan dirimu adalah budakku
Disini aku yang berkuasa
Walau wakilmu ada dimana-mana
Yang pandai bertutur kata
Tapi mudah dibungkam kuasa

Hahahahah
Aku Pemimpin juga Tuanmu...

Selasa, 23 September 2014

Start again !!!

       Malam ini, ditemani suara kawan yang sedang menonton film (kayaknya sih film action) dan setumpuk buku yang belum sempat terbaca. Ada sesuatu kejadian yang membuatku merasakan kembali apa arti dari sebuah kata yang kira-kira kalau dijelaskan seperti ini : mata yang sayu kemudian tangan yang basah, jantung berdegup cepat, pikiran mengawang-awang, serta jelas pandangan pada satu titik. Terserah kawan-kawan ingin menyimpulkan apa.
       Semua tampak biasa saja, tidak ada hal yang terlalu istimewa darinya. Mata yang bulat dan senyum serta suara yang haluslah yang mungkin membedakannya dari banyak sosok yang saya kenal. Malu rasanya mengakui, tapi cuman lidah yang bisa bohong (iklan salah) tapi hati sebaliknya. 
      
Sosok yang aku ceritakan ini selalu membuat waktu berhenti ketika berada di dekatnya. Seolah-olah tak mau beranjak bahkan berkedip pun enggan. Selalu ada aura bahagia yang terpancar dari raut wajahnya, walaupun ku tahu bahwa banyak juga kesedihan dan kekecewaan yang pernah dia rasakan.
      Entah harus mulai dari mana???
      "Semoga saja aku menjadi orang yang paling beruntung karena bisa memilikinya"

Kamis, 17 Juli 2014

Inikah rasanya? #1

     Ada satu hal yang mungkin selalu orang sembunyikan dan entah apa malu atau bagaimana mengungkapkannya. Kata yang tepat untuk mewakilinya adalah Jatuh cinta. Tidak dapat dipungkiri semua manusia pasti punya itu. Baik itu jatuh cinta yang sifatnya sangat sensitif hingga masalah yang remeh temeh.
            Karena aku juga manusia, maka tentu saja saya punya itu. Sebenarnya aku bingung harus mulai darimana. Tapi, mungkin aku bisa mulai dari sini saja. Mungkin diantara anda pernah dan mungkin sering merasakan jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Apakah itu kepada seseorang ataupun terhadap sesuatu yang lain semisal hobi, tempat, dsb. Kali ini yang menimpa saya adalah jatuh hati kepada orang, Ehemm, entahlah mengapa hal ini bisa terjadi.
           Kata orang, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Itulah yang terjadi terhadap saya di usiaku yang genap 20 tahun ini. Ya, sekarang aku menginjak usia 20 tahun. Usia yang sebagian orang mungkin sudah cukup dewasa. Kembali ke keadaan yang aku alami yaitu jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada seorang wanita, sebut saja dia Ani. Oh iya, sebelum itu perkenalkan namaku Fahri. Aku seorang mahasiswa semester empat disalah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia Timur. Tinggiku sekitar 175 cm dengan kulit agak coklat dan tubuh cukup atletis. Ya itu kata teman-temanku yang selalu iri dengan tampangku yang katanya "ganteng".
           Aku akan mulai dari awal aku bertemu dengannya. Pada hari itu, sekitar dua tahun yang lalu, aku baru saja dinyatakan lulus di kampus yang telah lama aku dambakan. Kampus dimana tempat berkumpulnya kaum intelektual untuk mengejar mimpi-mimpinya. Tempat dimana aku juga berharap aku mampu melangkah lebih maju dan lebih sukses dari orang kebanyakan.
          Pagi itu, ditemani suara kendaraan bermotor dan asap yang sangat banyak menutupi jalan. Aku melangkah dengan semangat yang tinggi untuk memulai hari pertamaku di kampus. Karena kampus dan kosku jaraknya sekitar lima km, maka kuputuskan untuk naik angkot. "Kampus pak"kataku sambil menengok ke dalam angkot. Tampak di dalam angkot masih sepi. Hanya seorang wanita separuh baya dan seorang pria yang kulihat di dalamnya. Kebetulan aku berangkat pagi-pagi sekali, takut telat masuk kampus di hari pertamaku. "Iya dek, silahkan naik" jawab sopir angkot yang sedari tadi mengulangi perkataannya karena aku menengok ke dalam terus menerus. Aku lantas naik dan duduk di bangku paling luar angkot tersebut. Waktu menunjukkan pukul  06.25 WITA. Itu waktu yang ditunjukkan jam kesayanganku. Jam tangan hitam yang selalu menemaniku sejak SMA dulu. "
            Jalanan di kota Makassar, belum terlalu padat. Tidak seperti waktu aku baru pertama kali datang kesini. Macetnya luar biasa, kalau dibandingkan di kampung, ahhh beda banget. Iya aku lupa mengenalkan darimana asalku. Aku merupakan salah satu putra kebanggaan Sulawesi tengah, tepatnya aku tinggal di Palu. Tempat yang indah dengan berjuta pesona.
         "Kiri pak, kiri kiri" Teriakku sedikit kencang karena laju angkot ini terlalu cepat dan sudah lewat di tempat seharusnya aku berhenti.
BERSAMBUNG.....